
Selamat pagi!
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wassalatu wassalamu 'ala asyrafil ambiya'i wal mursalin, wa 'ala alihi wa sahbihi sayyidina Rasulillahi ajma'in. Amma ba'du.
Puji syukur sama-sama kita panjatkan kehadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa, pada pagi hari yang berbahagia ini kami dari Majelis Pendidikan Kabupaten Aceh Singkil diperkenankan hadir dan menjadi pembina upacara pada SMK Negeri 1 Gunung Meriah.
Selawat dan salam kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah membawa kita umat manusia dari alam kebodohan ke alam yang berilmu pengetahuan sebagaimana yang kita sama-sama rasakan saat ini.
Yang kami hormati Bapak Kepala Sekolah, Bapak/Ibu Dewan Guru, Tata Usaha, dan juga para siswa-siswi yang masih segar-segar saya lihat untuk menerima pendidikan dari SMK Negeri 1 Gunung Meriah.
Bapak/Ibu Dewan Guru, anak-anak kami yang kami cintai, Qanun Aceh Nomor 1 Tahun 2022 membentuk satu wadah di Aceh yang disebut dengan Majelis Pendidikan Provinsi (kalau di provinsi). Kalau di kabupaten/kota dulu namanya Majelis Pendidikan Daerah, kalau sekarang berganti nama lagi menjadi Majelis Pendidikan Kabupaten.
Fungsi dan tugas daripada kami adalah memberikan pengawasan kepada semua sekolah, mulai dari TK, PAUD, SD, SMP, SMA, dan SMK, dan perguruan tinggi yang ada di daerah kerja kami, dan juga akan mendorong pemerintah daerah, baik kabupaten maupun provinsi, untuk meningkatkan pembangunan, baik itu pembangunan struktur dan infrastruktur maupun pembangunan sumber dayanya—sumber daya manusianya.
Baik, Bapak, Ibu Dewan Guru, dan anak-anak kami yang kami cintai, di zaman era globalisasi sekarang, menjadi tantangan kita pertama bukan lagi masalah keuangan orang tua. Tapi yang menjadi tantangan kita pertama adalah handphone. Saya yakin anak-anak kami yang di sini semuanya memiliki handphone, yakin saya semua anak-anak disini memiliki HP, Sebab anak SD sekarang, bahkan yang belum pun, masih belum TK pun sudah pakai HP. Ada ibu-ibu misalnya menjaga anaknya daripada repot, diputarkan film Upin Ipin, kasih sama anak, ditinggal. Sehingga anak ini nanti sampai besar otaknya itu Upin Ipin saja.
Begitu juga anak-anak kami. Kami kemarin kebetulan ada kunjungan kerja ke Polres Aceh Singkil. Kebetulan di saat kunjungan ketemu dengan beberapa Dewan Guru dan Kepala Sekolah, ada berantem anak-anak. Ini tidak perlu kita lanjutkan. Usia kalian ini adalah bagaimana caranya menimba ilmu. Masa depan kalian ini baru awal ini, mulai dari kelas satu SMA atau SMK itu baru awal.
Penentuannya nanti jikalau anak-anak kami ini sudah dewasa. Yang tidak punya pendidikan, pasti akan menyesal luar biasa. Apalagi kita menghadapi sekarang, cari kerja susah banget. Kasihan kita ASN kita hari ini dihadapkan dengan berbagai permasalahan. Ada yang 20 tahun mengabdi kepada negara, baik itu di struktur maupun fungsional, yang begitu keluar penghargaan negara, cuma dikasih paruh waktu, masya Allah.
Jadi yang terjadi hari ini adalah kepada anak-anak kami, kalau datang kemari hanya untuk belajar main-main, pasti kedepan tidak berhasil ke depan. Bapak dan Ibu Dewan Guru ini tidak mengharapkan Anda nanti menjadi orang, menjadi TNI, menjadi Polri, menjadi pengusaha, mereka tidak ingin minta uang dari anak-anak kami nanti kalau sudah dewasa. Tapi mereka ada rasa batin, kepuasan batin yang luar biasa. "Oh, itu si anu itu dulu murid saya di SMK."
Anak anak yang saya bangggakan, Jangan ada bullying. Misalnya, "Oh, itu jajannya hanya sekian. Oh, itu datangnya naik bus sekolah." Belum tentu yang tidak punya jajan, belum tentu yang naik bus sekolah hari ini datang ke sekolah ini nanti ke depan menjadi jenjang bawah. Orang tua anak-anak kami ini banyak yang kaya, saya tahu ini. Tapi jangan Anda pikir Anda selamanya sama orang tua Saudara. Banyak kita tengok orang tuanya mapan, kaya, begitu anaknya gembel. Kenapa? Karena tidak punya pendidikan. Di otaknya itu bagaimana caranya orang tuanya itu cepat mati dan hartanya sama saya. Nah, dia tidak punya planning hidup ini, tidak punya cita-cita.
Jadi bullying itu tidak boleh ada. Guru sama guru pun tidak boleh ada gap-gap-nya, Yang namanya satu rumah tangga, ini satu rumah tangga namanya. Sekolah ini namanya satu rumah tangga dan satu kepala rumah tangganya. Ini yang perlu kita ketahui.
Lalu kami dari Majelis Pendidikan Kabupaten Aceh Singkil akan terus mendorong, bekerja sama. Hari ini perlu kami sampaikan kepada Bapak dan Ibu Dewan Guru, yang namanya mutasi sekolah—TK, PAUD, SD, SMP—itu sudah ada tanda tangan kami dari Majelis Pendidikan untuk ikut menyetujui, bukan mengintervensi kepada daerah. Makanya banyak yang bertanya, "Ini Pak Bupati kok belum mutasi sampai hari ini?" Karena tahapan sekarang itu berbeda Bapak/Ibu. Tahapan sekarang ada pengawas di situ tanda tangan, kami dari Majelis Pendidikan juga tanda tangan. Artinya yang sudah ditetapkan Pak Bupati, ada kesempatan kami memberikan penilaian, bukan berarti intervensi.
Jadi kalau anak-anak kami begitu juga, tidak perlu anak-anak ini pikirkan cari uang kan terkecuali memang orang tuanya tidak mampu sama sekali, bantu! Kalau masih mampu, tidak usah kerja, nanti itu berpengaruh.
Tapi bagaimana caranya peralatan yang disediakan oleh sekolah ini di bidang perbengkelan, pertukangan, bangunan, dan seterusnya itu manfaatkan,
Jadi kalau anak-anak nanti, tahunya kita berhasil atau tidak setelah kita mencapai menjelang dewasa. Apa yang perlu kita tanamkan dalam hati kita, pertama kita yang keempat tadi, poin keempat apa itu, Janji Siswa? Setia kepada... (Pancasila). Ada yang ingat? Janji Siswa yang poin keempat apa bunyinya? Rukun dengan teman. Yang barisan sana ada tidak? Tahu? Coba tunjuk tangan satu orang. Ini saya kasih surprise Rp100.000. Siapa yang tahu? Ada? Waduh, tidak ada.
Artinya kita bukan tidak tahu, segan menjawab, saya yakin. Kalau anak-anak kami ini pintar semua ini, tidak ada yang tidak tahu. Jadi ke depan harapan kami tidak ada lagi gap-gap-an, tidak ada lagi geng-gengan, tidak ada lagi bullying, tidak ada lagi main handphone yang berlebihan. Boleh menggunakan handphone. Kami orang-orang tua ini pun kalau mau belajar lihat handphone sekarang memang. Kalau tidak, dari mana kami tahu? Apalagi Bapak/Ibu Dewan Guru ini bingung, karena sekarang negara ini banyak kali kurikulumnya. Belum habis kurikulum ini, masuk kurikulum ini, betul ya?
Oleh sebab itu, pertama kepada anak-anak kami kami tegaskan, ayo jaga hargai diri kita dulu. Hargai teman kita, hargai lingkungan kita, hargai/hormat kepada orang tua, dan hormat juga kepada guru. Insya-Allah nanti anak-anak kami menjadi anak-anak yang berguna, anak-anak yang berhasil ke depan, dan bisa membanggakan kedua orang tua. (Aamiin...)
Pesan kami terakhir kepada Bapak dan Ibu Dewan Guru, anak-anak yang diserahkan orang tua ini adalah menjadi anak Bapak dan Ibu selama jam belajar. Berikan pengawasan, berikan pengajaran, jangan ada membeda-bedakan, insya-Allah mereka akan hormat. Anak-anak juga begitu, jangan sempat kalian membuat guru kalian tidak mau mengajar dengan baik.
Kemudian dari pada itu kami dari Majelis Pendidikan Kabupaten Aceh Singkil akan selalu berkoordinasi dengan pihak sekolah, dengan pihak provinsi. Kalau saya ke Banda Aceh, saya telepon beliau dan sering duduk bareng. Artinya kita ingin memberikan juga rekomendasi baik itu pembangunan struktur dan infrastruktur dan sebagainya, sehingga SMK Negeri 1 Gunung Meriah ini menjadi salah satu sekolah favorit di Kabupaten Aceh Singkil yang bisa mencetak generasi-generasi muda ke depan untuk bangsa dan negara dan pribadi.
Saya kira itu yang bisa saya sampaikan, lebih dan kurang saya mohon maaf. Hadanallahu wa iyyakum ajma'in. Wabillahi taufiq wal hidayah, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
(Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh)
Bagikan:




